Archive for February 7, 2008

Iiih serem ternyata Virus Korupsi udah Menggerogoti Syaraf-Syaraf Demokrasi Di Negara Ini

                                                   INDONESIA & BUDAYA KORUPSI

Korupsi dan penyuapan yang terjadi diberbagai negara merupakan ancaman bagi demokratisasi. Sebab, korupsi dianggap menggerogoti institusi-institusi demokrasi dan membuat masyarakat tidak percaya kepada pemerintah. Masalah korupsi di Indonesia, sebagaimana dilansir oleh sebuah lembaga penelitian ekonomi independen terdahulu yang berasal dari Hongkong–Independent Comitte Anti Corruption (ICAC)– sudah masuk dalam 10 besar negara paling Korup di dunia. Hal ini dikuatkan oleh penelitian Transparency International (TI) yang bermarkas di Berlin, bahwa 10 negara paling korup tersebut adalah Nigeria, Pakistan, Kenya, Banglades, Cina, Kamerun, Venezuela, Indonesia, Rusia, dan India. Korupsi, di Indonesia sudah jelas pengaturannya. Melalui UU Korpusi yang baru UU no 3/1971 pemerintah berjanji akan menindak tegas setiap pelanggaran bagi tindakan korupsi, baik di instansi pemerintah maupun swasta. Namun, hingga saat ini pelanggaran korupsi terkesan belum ada satu mekanisme political action yang jelas untuk memberantasnya. Meskipun pemerintah sendiri sudah membuat lembaga khusus untuk mengawasi perputaran uang negara (Badan Pemeriksa Keuangan) atau menggalakkan Pengawasan Melekat (Waskat) di instansi-instansi atau slogan-slogan lainnya. Toh, masih saja korupsi merajalela. Kenapa? Di Indonesia permasalahan korupsi tidak didukung oleh aparatur negara yang qualified. Di Indonesia, korupsi apakah sudah bisa disebut membudaya atau baru taraf proses menuju ke sana? Tak jelas, memang. Kapan lahirnya korupsi di Indonesia, juga tidak begitu jelas. Di zaman Orde Lama dan juga Orde Baru, korupsi memang luar biasa. Menteri-menteri Soekarno dan juga Soeharto melakukan korupsi tanpa malu-malu dan mengakibatkan rakyat menanggung beban dengan merosotnya kondisi ekonomi negara, ditambah lagi meningginya tingkat inflasi sampai 400 persen lebih. Para pejabat negara berhura-hura dengan berbagai kemewahannya sedangkan rakyat dibuat sengsara olehnya. Kini, korupsi dan kolusi tumbuh sedemikian hebatnya. Hampir di setiap institusi pemerintah dari RT sampai tingkat tinggi terjadi korupsi dan kolusi. Dari tingkat bawah, untuk satu contoh kecil, dalam mengurus KTP pastilah akan berurusan dengan pejabat tingkat bawah tersebut. Dalam pembuatan KTP tersebut, si pembuat akan dikenakan biaya macam-macam di luar biaya resmi. Apalagi kalau si pembuat terlihat sedang membutuhkan KTP. Di tingkat elit pemerintahan, seorang Menteri diketahui menyimpan uang negara dalam rekening pribadinya. Orang awam sekalipun akan mengatakan itu: Salah! Tindakan tegas juga tak kunjung datang untuk menekan tingkat korupsi dikalangan elit pemerintahan. Hanya sebatas jawaban bahwa hal tersebut karena ketidakmengertian atau kesalahan teknis. Banyak sekali contoh kasus korupsi yang dilakukan di lembaga pemerintahan. Bagaimana dengan korupsi yang dilakukan oleh kalangan swasta? Memang korupsi yang dilakukan oleh kalangan swasta tidak kalah banyaknya dibandingkan dengan yang di pemerintahan. Namun, yang dilakukan oleh kalangan swasta jarang sekali terdeteksi. Kalaupun terdeteksi biasanya setelah korupsinya mencapai angka milyar atau trilyun. Sebut saja kasus Edi Tansil, koruptor satu trilyun lebih. Bagaimana dengan mereka yang melakukan korupsi kecil-kecilan? Bagaimanapun juga, besar atau kecil, yang namanya korupsi tetap harus diberantas, karena jelas akan merugikan negara atau pihak yang dikorupsi (swasta). Lalu, apakah korupsi sudah bisa disebut membudaya? Jawabannya: Sudah! Dengan melihat contoh-contoh kasus di atas, sudah bisa disimpulkan bahwa korupsi sudah mengakar atau membudaya di Indonesia. Hal ini tidak bisa dibiarkan mengingat Indonesia segera menghadapi era pasar bebas dunia. Kalau permasalahan korupsi tidak segera diatasi akan membuat Indonesia disingkirkan dari kancah perekonomian dunia. Masyarakat dunia akan lebih membatasi investasi terhadap Indonesia. Jawaban dari membudayanya korupsi adalah dibentuk sikap dan budaya antikorupsi di masyarakat. Tuntutan terhadap dibentuknya lembaga antikorupsi independen sudah sangat mendesak. Tidak bisa tidak, ini dibutuhkan oleh negara seperti Indonesia untuk menghadapi era pasar bebas dunia. Selain itu untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan, yang diakui atau tidak untuk saat ini terjadi krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap pemerintah. Lembaga ini secara langsung atau tidak akan meningkatkan semangat demokratisasi di masyarakat. Bung Hatta pernah mengatakan, “Korupsi telah menjadi seni dan bagian dari budaya Indonesia.” Padahal, seperti kata Samuel Huntington dalam Clash of Civilizations (1996) dan Lawrence E Harrison dalam Culture Matters (2000), budaya korupsi adalah penyebab terjadinya kemunduran dan keterbelakangan suatu masyarakat. “Sebuah bangsa akan hancur ketika moralitasnya hancur”, tegas penyair Arab, Syauqi Beik. Sadar akan kenyataan ini, kita bertanya-tanya, mengapa beragama tidak berarti tidak korupsi?
Secara etimologis, korupsi (korruptie, bahasa Belanda) mengandung arti kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, penyuapan (riswah, bahasa Arab), penggelapan, kerakusan, amoralitas, dan segala penyimpangan dari kesucian.

Mungkin kita terlalu over-estimate terhadap peran agama. Agama sering dipaksa untuk menjawab segala persoalan (panacea). Padahal, agama juga sulit terpisahkan dari budaya masyarakat tertentu. Klaim bahwa agama itu serba melingkup justru sering membawa penafsiran agama yang sempit dan pemaksaan penafsiran yang jarang menyelesaikan masalah itu sendiri. Keberagamaan sering justru menjadi bagian dari masalah itu sendiri yang harus diatasi.

Namun, kita juga tidak perlu under-estimate, seolah-olah agama tidak mampu mendorong antikorupsi. Bukan agama yang gagal, tetapi tokoh dan penganut agama itu yang belum memaknai agama secara tepat.
Agama itu sendiri berbeda dengan keberagamaan (religiosity). Kesalehan individual belum tentu membawa kesalehan sosial dan profesional.
Salah satu sebab korupsi adalah pandangan dunia (mind-set) sebagian masyarakat yang keliru, yang dipengaruhi nilai-nilai agama dan budaya yang tidak kondusif bagi kehidupan yang bersih. Bagi banyak orang, agama atau iman lebih sering membelenggu ketimbang membebaskan. Agama cenderung melangit, tidak membumi, mandul, tidak berdaya, kehilangan vitalitas, kurang menggerakkan penganutnya untuk aktif membebaskan diri dari perbuatan jelek, termasuk korupsi.
Penafsiran agama yang harfiah, teks-tual, dan kaku seperti doktrin takdir bahwa Tuhan menentukan segalanya dan manusia cuma nrimo apa adanya, membawa keberagamaan yang pasif dan tidak liberatif. Agama sebatas bersifat formal, padahal pada saat yang sama pembusukan moral sedang terjadi.

Sanksi agama umumnya lebih bersifat moral. Ada doktrin, seorang pembunuh bisa dimaafkan Tuhan bila benar-benar bertobat (kembali kepada kebaikan). Namun, sanksi manusia tetap harus dilaksanakan, baik yang bersifat moral maupun hukum. Meski penekanan pada sanksi ternyata menjadi salah satu sebab kegagalan penanggulangan korupsi, sanksi moral tetap efektif dalam usaha antikorupsi. Misalnya, di lingkungan kerja perlu dibudayakan sanksi moral: bahwa siapa saja yang kedapatan menyuap atau menerima suap harus dikucilkan.
Larangan-larangan moral bahwa korupsi itu pekerjaan setan dan dikutuk Tuhan harus digencarkan. Banyak kasus korupsi di Indonesia yang melibatkan orang kaya dan public figure. Namun, orang kaya yang berbuat korupsi sebenarnya mengidap culture of poverty karena tidak kunjung merasa cukup.
Karena itu, agama mengajarkan budaya cukup (culture of adequateness) material maupun mental spiritual. Kekayaan spiritual dalam wujud moralitas yang mulia lebih berharga daripada kekayaan material yang diperoleh dan dinikmati tanpa kemuliaan moralitas.
Kini, korupsi tidak terbatas di lembaga-lembaga “sekuler” saja, tetapi “merajalela” dan mewabah pula di lembaga-lembaga “agama”.
Baik pada partai-partai non-agama maupun partai-partai agama, institusi-institusi keagamaan, semua bisa menjadi bagian dari budaya korupsi. Begitu pula, organisasi-organisasi yang mengurus urusan keagamaan seperti ibadah ritual (perjalanan haji, wakaf, zakat), pendidikan, dan kegiatan sosial lainnya, tidak steril dari korupsi.
Salah satu sebab gagalnya penanggulangan korupsi adalah minimnya dukungan masyarakat. Tokoh dan lembaga keagamaan tidak merasa menjadi bagian dari gerakan-gerakan antikorupsi. Para penceramah agama paling banter menyinggung soal korupsi dalam konteks sekadar menyerang lawan politik yang dituduh melakukan korupsi (bersifat politis), bukan mencari akar-akar penyebab korupsi dan bagaimana mengikis korupsi.

Moh. Zaki Kurniawan MANAJEMEN BRAWIJAYA

ETOSer 2006

February 7, 2008 at 8:40 am Leave a comment

MENGATASI KECEMASAN PENDERITA KANKER LEHER RAHIM STADIUM AKHIR

UPAYA MENCEGAH KANKER LEHER RAHIM STADIUM AKHIR

Oleh Imam Affandi,S.Psi, MM

 

Kanker adalah peyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga dapat menyebabkan kematian. Kanker sering dikenal masyarakat sebagai tumor, padahal tidak semua tumor adalah kanker. Tumor adalah segala benjolan tidak normal atau abnormal yang bukan radang. Penyakit kanker telah dikenal di kalangan orang-orang Mesir dan Yunani Kuno sejak dulu. Menurut American Cancer Society, kematian yang disebabkan oleh kanker pada atahun 1989, hampir mencapai angka 500 ribu. Angka itu, 2 persen dari keseluruhan kematian. Jumlah ini merupakan urutan kedua setelah kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah. (. Gizinet.com) Upaya untuk mencegah kanker ada dua hal utama pencegahan kanker yaitu tindakan fisik dan mental/kejiwaan. Sehingga tidak merusak atau semua menjadi terlambat Di Indonesia kematian akibat kanker menempati urutan kedua, setelah kematian akibat infeksi. Namun timbul praduga, apabila berbagai infeksi telah dapat diatasi dan penduduk yang mencapai usia lanjut makin banyak jumlahnya, diperkirakan jumlah penderita kanker akan menempati urutan tertinggi. Terutama pada jenis kanker leher rahim, yang diderita pada wanita, yang kemungkinan kecil bisa diobati.WHO menyatakan bahwa sepertiga sampai setengah dari semua jenis kanker dapat dicegah, sepertiga dapat disembuhakan bila ditemukan pada tahap permulaam atau stadium dini. Sisanya dapat diringankan penderitaannya. Oleh karena itu, upaya mencegah kanker dapat menemukan kanker pada stadium dini merupakan upaya yang penting karena disamping membebaskan masyarakat dari penderitaan kanker juga menekan biaya pengobatan kanker yang mahal(. Gizinet.com). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun jumlah penderita kanker di dunia bertambah 6,25 juta orang. Dalam 10 tahun mendatang diperkirakan 9 juta orang akan meninggal setiap tahun akibat kanker. Dua pertiga dari penderita kanker di dunia akan berada di dunia dunia yang sedang berkembang. Di Indonesia diperkirakan setiap tahun terdapat 100 penderita kanker yang baru dari setiap 100.000 penduduk. Menurut hasil Survay Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI, kematian yang disebabkan kanker meningkat dari tahn ke tahun ialah: 4,5%0 (1989), 4,5%0 (1992), dan 4,9%0 (1995). (. Gizinet.com)

Kondisi psikologis adalah keajaiban yang perlu kita pelajari, pahami dan kita miliki dalam kehidupan sehari-hari, mampu memperkaya kehidupan kita jadi lebih indah. Kondisi psikologis merupakan penggerak hidup kita untuk berbuat menjadi lebih baik atau lebih buruk tergantung pada kemampuan dalam mengendalikan kondisi psikologis. Menghadapi kematian merupakan suatu hal yang sangat sulit, apalagi jika menjelang saat kematian itu seseorang belum dapat menerima kenyataan tersebut dengan lapang hati. Ketika seseorang mengetahui tentang penyakit yang dideritanya, dan saat itu juga seseorang akan berfikir tentang penyakit yang di deritanya itu. Bahwa kematian merupakan diterjemahkan sebagai masa transisi dimana hidup seseorang tersebut sudah tidak lama lagi atau “death define is the process of making transition from being alive to being a death”. (webmaster@kafemuslimah.com). Secara umum manusia ingin hidup panjang dengan berbagai upaya yang dilakukan, proses hidup yang dialami manusia yang cukup panjang ini telah menghasilkan kesadaran pada diri setiap manusia akan datangnya kematian sebagai tahap terakhir kehidupannya di dunia ini. Namun demikian, meski telah muncul kesadaran tentang kepastian datangnya kematian ini, persepsi tentang kematian dapat berbeda pada setiap orang atau kelompok orang. Bagi seseorang atau sekelompok orang, kematian merupakan sesuatu yang sangat mengerikan atau menakutkan, walaupun dalam kenyataannya dari beberapa kasus terjadi juga individu-individu yang takut pada kehidupan (melakukan bunuh diri) yang dalam pandangan agama maupun kemasyarakatan sangat dikutuk ataupun diharamkan (Lalenoh, 1993 : 1).

Menghadapi kematian merupakan suatu hal yang sangat sulit, apalagi jika menjelang kematian itu seseorang belum dapat menerima kenyataan tersebut dengan lapang hati sehingga banyak menimbulkan berbagai reaksi psikologis. Penyakit kronis yang telah akut seringkali juga menimbulkan reaksi psikologis, misal kanker leher rahim, diabetes dan sebagainya Salah satu penyakit yang sering menimbulkan rasa was-was bagi kaum hawa adalah kanker serviks atau kanker leher rahim. Jenis kanker inilah yang terbanyak diderita perempuan di Indonesia. Tragisnya angka kematian pernderita kanker leher rahim di Indonesia cukup tinggi. Pasalnya, sebagian besar penderita kanker leher rahim di Indonesia baru datang berobat setelah stadium lanjut. Jika sudah pada stadium lanjut ini, maka akan sulit mencapai hasil pengobatan yang optimal . (Setyawan, 2004). Kanker leher rahim merupakan jenis kanker terbanyak kedua pada wanita yang menjadi penyebab lebih dari 250.000 kematian pada 2005. Kurang lebih 80 % kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Tanpa penatalaksanaan yang adekuat, diperkirakan kematian akibat kanker leher rahim akan meningkat 25 % dalam 10 tahun mendatang. Menurut para ahli jiwa, jika seseorang tidak mampu mengungkapkan perasaannya lewat jalur yang benar. Contohnya, bila kita sedih kita bisa meluapkannya dengan menangis. Tapi, bila seseorang menahan kesedihan sedalam-dalamnya, kesedihan itu mencari dalam jalan untuk keluar, yaitu lewat organ terlemah.

Wanita yang divonis kanker leher rahim akan memiliki dampak fisik, psikologis serta dampak sosial. Umumnya sebelum kanker meluas atau merusak jaringan disekitarnya, penderita tidak merasakan adanya keluhan ataupun gejala biasanya penyakitnya sudah kronis baru diketahui oleh si penderita Penyebab yang diduga kuat dapat menimbulkan kanker leher rahim (serviks) adalah sperma yang mengandung komplemen histon (sejenis protein) yang nantinya bereaksi dengan unsur DNA sel leher rahim, air mani yang bersifat alkalis sehingga menimbulkan perubahan pada sel rahim. Terdapatnya sejenis bakteri seperti Mycoplasma,Ehlamydla, Virus Herpes Simpleks tipe 2, Virus Papiloma. Dimana gejala awal yang sering terjadi dan dialami oleh penderita kanker rahim adalah terjadinya keputihan, keputihan berbau busuk terkadang disertai darah. Pendarahan bercak, setitik setelah bersetubuh, keluar cairan encer berbau busuk dan sipenderita mengalami keluhan tidak khas didaerah perut bawah dan panggul (webmaster@kafemuslimah.com).

Lah satu penyebab serviks adalah karena penyimpangan seksual dan ini merupakan faktor resiko yang sangat tinggi berpengaruh pada terkenanya seseorang penyakin serviks. Faktor lain yang dianggap merupakan faktor resiko adalah hubungan seksual pertama kali paada usia muda, berganti-ganti pasangan. Penyakit serviks ini sering melanda pada wanita terutama pada wanita berusia 20 hingga 30 tahun (suarakarya.com). Disisi lain, penderita kanker leher rahim seringkali menghadapi tekanan psikologis karena kanker leher rahim menimbulkan implikasi seperti rasa sakit, ketergantungan pada orang lain, ketidakmampuan dan ketidakberdayaan, hilangnya fungsi-fungsi tubuh, dan sebagainya. Penderita kanker leher rahim mengalami rasa takut, cemas, shock, putus asa, marah, serta depresi. Perasaan timbul pada diri penderita kanker leher rahim justu akan bedampak negatif. (www.majalah.farmacia.com/rubrik/one_news.asp?ID)

Kondisi psikologis berpengaruh baik secara langung maupun tidak langsung fungsi fisik dan mental suatu sikap. Hal ini dapat terjadi dalam keadaaan stess yang berat tubuh akan mengeluarkan hormon-hormon kewaspadaan dalam jumlah besar, diantaranya adalah hormon andrenalin. Keberadaan andrenalin dalam tubuh menyebabkan tubuh dalam keadaan siaga penuh dengan tekanan darah meningkat, jantung memompa darah lebih kuat, dan sel-sel tubuh dalam keadaan siaga serta mengalami ketegangan. Yang dapat mempengaruhi kondisi fisik Keadaan seperti di atas seringkali juga berpengaruh secara psikologis pada penderita serviks. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Edward menulis dalam bukunya stop worryng and get well : bahwa penyakit sebetulnya disebabkan oleh pikiran-pikiran negatif yang berasal dari diri sendiri, seperti kekhawatiran yang berlebihan, tekanan batin karena kehilangan sesuatu dalam dirinya. (Hendranata, 2007:114). Dampak psikologis yang dialaminya seperti fisik berupa rasa nyeri, kerontokan rambut bahkan mungkin terjadi perubahan fisik sebagai efek pengobatan reaksi yang muncul bisa merupakan reaksi psikologis terhadap diagnosis kanker yang harus dihadapinya.

Seperti muncul perasaan, takut, terancam, marah, sedih dan depresi. Pada awalnya penderita kanker leher rahim, tidak mau menerima dirinya, merasa hidup itu tidak adil karena orang lain bebas kemana-mana sedangkan dirinya hanya didalam rumah dan mengasingkan diri dari siapapun juga dengan penyakit yang dideritanya, merasa kesepian, marah dan ketakutan akan kematian. Dengan demikian tingkat kondisi psikologis yang berlebihan akan berdampak kurang baik dalam tubuh, sehingga timbullah gejala-gejala fisik dan psikis. Rasa cemas yang timbul akibat melihat dan mengetahui ada bahaya yang mengancam dirinya. Cemas ini lebih dekat kepada rasa takut, karena sumbernya jelas terlihat dalam fikiran. Daradjat (1985:27). Sementara reaksi psikologis adalah reaksi yang biasanya ditandai oleh adanya perasaan tegang, bingung, atau perasaan tidak menentu, terancam, tidak berdaya, rendah diri, kurang percaya diri, tidak dapat memusatkan perhatian dan adanya gerakan yang tidak terarah atau tidak pasti (Hurlock, 1996:316) Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Kusuma bahwa energi negatif berkepanjangan akan merusak sehingga tubuh bioplasmatik kekurangan energi. Akibatnya badan lemah dan berbagai keluhan timbul mulai dari flu bisa sampai kanker ganas. (Hendranata, 2007:19)

 

 

Dalam keadaan seperti ini seharusnya sipenderita serviks ini menguatkan mental atau selalu memberikan dorongan yang kuta pada dirinya sendiri. Sebab ini merupakan suatu proses mental untuk memperoleh suatu pemahaman terhadap sesuatu. Suatu proses mental yang dengannya seseorang mampu menyadari (mengetahui) dan mempertahankan hubungan dengan keliling-luarnya. Kemampuan kognitie berarti kemampuan seseorang untuk memahami sesuatu yang terjadi dilingkungannya (baik lingkungan dalam maupun luar). Termasuk dalam proses kognisi tersebut adalah sensasi, persepsi, asosiasi, pertimbangan, pikiran, dan kesadaran. Sensasi ini merupakan kesadaran akan adanya suatu rangsang, sensasi sama dengan pengindraan. Semua rangsang masuk dalam diri melalui panca indra, yang kemudian diteruskan keotak yang menjadi kita sadar akan adanya rangsang tersebut. Namun tidak semua rangsang yang masuk dapat dipahami atau dimengerti. Rangsang yang sekedar masuk dalam diri tetapi hanya menyadari tanpa mengeri atau memahami ransang tersebut. sedangkan persepsi adalah kesadaran akan adanya suatu rangsang ditambah dengan pengertian.

Karena adanya interaksi atau asosiasi dengan rangsang yang lainya atau rangsang yang sudah dipahami sebelumnya.Dalam pandangan psikologi naturalistik, persepsi selalu didahului adanya impresi sensori /sensasi (ada sinyal benda) kemudian diterimah oleh lapangan persepsi yang tak terhingga dan tak teraktualisasikan, selanjutnya terjadi asosiasi dengan kesadaran untuk kemudian digabung dengan impresi-impresi dan persepsi-persepsi terdahulu sehingga menghasilkan pengenalan. Dalam pandangan ini obyek persepsi hanya dipersepsi sebagian, sebagian dibayangkan. Apa yang dilihat disebut persepsi ‘hukum’, yang dibayangkan disebut persepsi potensial. Yamg potensial ini kemudian dilihat menjadi ‘hukum’. Hal ini terjadi karena ada sekema antisipasi, yaitu bahwa manusia hakekatnya tidak hanya peka terhadap apa yang di persepsi secara actual tetapi yang juga sifatnya potensial, dan proses ini umumnya tidak disadari. Gejala perasaan (emosi) atau afektif adalah suatu keadaan kerohanian atau peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungan dengan peristiwa mengenal dan bersifat subjektif.Menurut Franken emosi merupakan hasil interaksi antara factor subyekif (proses kognitif), factor lingkungan (hasil belajar), dan factor biologi (proses hormonal). Dengan kata lain, emosi muncul pada saat manusia berinteraksi dngan lingkungan dan merupakan hasil upaya untuk berinteraksi dengan lingkungan dan merupakan hasil upaya untuk beradaptasi dengan lingkungannya

Menurut miramis (1980), afek atau emosi adalah nada perasaan menyenangkan atau tidak (seperti kebanggaan, kekecewaan, kasih sayang) yang menyertai suatu pikiran dan biasanya berlangsung lama serta kurang disertai dengan komponen-komponen fisiologis. Sedangkan Emosi, manifestasikan afek keluar disertai oleh banyak komponen fisiologik, berlangsungnya relative tidak lama (missal: kecemasan, ketakutan, depresi, kegembiraan) Emosi adalah suatu keadaan perasaan yang telah melampaui batas sehingga untuk mengadakan hubungan dengan sekitarnya mungkin terganggu Sehingga contoh: ketakutan, kecemasan, depresi, dan kegembiraan.Emosi tampak jelas dalam ekspresi wajah, seperti: marah, cemas, ketakutan, peasaan berdosa, malu, kesedihan, cemburu, iri-hati, muak, kebahagiaan, bangga, lega, harapan, cinta, dan haru. Dalam kehidupan manusia, emosi memegang peranan yang amat penting. Tanpa emosi, fungsi mental seseorang tidak dapat dipertahankan dengan memuaskan. Jadi emosi sama dengan jantung jiwa. Kalau jantungnya berhenti, jasmani akan mati. Kalau emosi berhenti maka matilah jiwanya. Dengan dimilikinya emosi manusia memiliki kekuatan yang mahahebat. Ia mampu mengaktifkan dan memberi energi pada seluruh aktivitas manusia.

February 7, 2008 at 12:25 am Leave a comment

Kecemasan Dalam Menghadapi Kematian Pada Lansia Yang Menderita Penyakit Kronis

IA PASRAH TERHADAP PENYAKIT YANG DIDERITANYA…

Oleh :

Imam Affandi, S.Psi. MM

Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Menurut Kepala Kanwil Departemen Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam ceramah simposium geriatri, usia lanjut adalah orang-orang yang berusia diatas 56 tahun dan mengandung pengertian bahwa mereka dipandang sudah tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya.

Secara umum manusia ingin hidup panjang dengan berbagai upaya yang dilakukan, proses hidup yang dialami manusia yang cukup panjang ini telah menghasilkan kesadaran pada diri setiap manusia akan datangnya kematian sebagai tahap terakhir kehidupannya di dunia ini. Namun demikian, meski telah muncul kesadaran tentang kepastian datangnya kematian ini, persepsi tentang kematian dapat berbeda pada setiap orang atau kelompok orang. Bagi seseorang atau sekelompok orang, kematian merupakan sesuatu yang sangat mengerikan atau menakutkan, walaupun dalam kenyataannya dari beberapa kasus terjadi juga individu-individu yang takut pada kehidupan (melakukan bunuh diri) yang dalam pandangan agama maupun kemasyarakatan sangat dikutuk ataupun diharamkan (Lalenoh, 1993 : 1). Sebaliknya, bagi seseorang atau sekelompok orang, pertambahan usia cenderung membawa serta makin besarnya kesadaran akan datangnya kematian, dan kesadaran ini menyebabkan sebagian orang yang berusia tua tidak merasa takut terhadap kematian. Kematian diterima sebagai seorang sahabat (Tony 1991 : 15).

Dengan demikian orang lanjut usia dalam meniti kehidupannya dapat dikategorikan dalam dua macam sikap. Pertama, masa tua akan diterima dengan wajar melalui kesadaran yang mendalam, sedangkan yang kedua, manusia usia lanjut dalam menyikapi hidupnya cenderung menolak datangnya masa tua, kelompok ini tidak mau menerima realitas yang ada (Hurlock, 1996 : 439).Seperti yang telah dikemukakan diatas, menjadi tua merupakan proses yang wajar dan terjadi pada setiap orang. Permasalahannya adalah bagaimana lansia tersebut bisa menyadari dan mempersiapkan diri untuk menghadapi usia tua. Di sisi lain, ada sebuah anggapan atau pencitraan yang negatif dan positif. Semakin bisa berfikir positif, orang akan semakin bisa menerima kenyataan namun “ menerima ” itu bukan berarti kita menerima apa adanya. Maksudnya adalah bagaimana cara kita menyesuaikan diri dengan usia, melakukan aktivitas secara wajar sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis usia tua.

Proses menua (aging) adalah proses alami yang dihadapi manusia. Dalam proses ini , tahap yang paling krusial adalah tahap lansia (lanjut usia). Dalam tahap ini, pada diri manusia secara alami terjadi penurunan atau perubahan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum ( fisik) maupun kesehatan jiwa secara khusus pada individu lanjut usia. Usia lanjut ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis tertentu. Efek-efek tersebut menentukan lansia dalam melakukan penyesuaian diri secara baik atau buruk, akan tetapi ciri-ciri usia lanjut cenderung menuju dan membawa penyesuaian diri yang buruk dari pada yang baik dan kepada kesengsaraan dari pada kebahagiaan, itulah sebabnya mengapa usia lanjut lebih rentan dari pada usia madya (Hurlock, 1999 : 380)

Masalah-masalah kesehatan atau penyakit fisik dan atau kesehatan jiwa yang sering timbul pada proses menua (lansia), menurut Stieglitz (dalam Nugroho; 1954) diantara; Gangguan sirkulasi darah, gangguan metabolisme hormonal, gangguan pada persendian, dan berbagai macam neoplasma. Masalah sosial yang dihadapi lanjut usia (lansia) adalah bahwa keberadaan lansia sering dipersepsikan negatif oleh masyarakat luas. Kaum lansia sering dianggap tidak berdaya, sakit-sakitan, tidak produktif dan sebagainya. Tak jarang mereka diperlakukan sebagai beban keluarga, masyarakat, hingga Negara. Mereka seringkali tidak disukai serta sering dikucilkan di panti-panti jompo. Perubahan perilaku ke arah negatif ini justru akan mengancam keharmonisan dalam kehidupan lansia atau bahkan sering menimbulkan masalah yang serius dalam kehidupannya.

Orang yang sudah lanjut usia seringkali mendapat perlakuan yang sebenarnya tidak mereka inginkan, misalnya selalu disuruh duduk saja. Mungkin para lansia itu akan berfikir, “ Mentang-mentang sudah tua, disuruh diam saja. Padahal kan aku ingin membantu juga”. Begitulah yang biasanya terjadi, yang muda merasa kasihan, sementara yang tua merasa kalau mereka masih sanggup melakukan sesuatu. Apa yang orang muda lakukan pada mereka yang sudah lansia seperti yang dikemukakan tersebut, sebenarnya suatu kesalahan (Bali Post, 2 Juni 2002). Sementara sumber data dari World Bank tahun 1994 (Kompas, 30 Mei 1996) membeberkan usia harapan hidup rata-rata penduduk Indonesia ditahun 1960 hanyalah 46 tahun, tetapi ditahun 1990 usia harapan hidup melonjak menjadi 59 tahun, sedangkan ditahun 1994 adalah 62 tahun. Lantas ditahun 2000 meningkat lagi menjadi minimal 70 tahun.

Perkiraan pada tahun 2005 nanti akan terjadi ledakan lansia di Indonesia, jumlah lansia akan mencapai 16,2 juta jiwa atau 7,4 % dari total penduduk yang berjumlah sekitar 216,6 juta jiwa.Memang datangnya masa tua tidak dapat ditentukan dengan pasti sesuai dengan kedudukannya sebagai suatu bagian yang tidak terpisah dari proses hidup seluruhnya sesuai pula dengan kenyataan bahwa semua berlaku menurut hukum alam yang berlaku. Hal ini dikuatkan dari hasil studi kasus yang telah dilakukan oleh peneliti bahwa lansia merasa tidak nyaman saat kondisinya sedang drop (kesehatan menurun), lansia sering mengeluh tidak diperhatikan serta cenderung memperhatikan perilakunya seperti pola makan yang sangat diatur. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Santoso (2000:56) bahwa dalam kehidupan lansia ternyata sebagian besar orang usia lanjut masih mampu mengisi hari-hari tuanya dengan berbagai kegiatan seperti kegiatan keagamaan, mengasuh cucu, memantau pekerjaan sehari-hari, membuat kerajinan seperti menyulam dan lain-lain. (Bali pots,2002)

Usia lanjut dipandang sebagai masa degenerasi biologis yang disertai oleh penderitaan berbagai dengan masa penyakit dan keudzuran serta kesadaran bahwa setiap orang akan mati, maka kecemasan akan kematian menjadi masalah psikologis yang penting pada lansia, khususnya lansia yang mengalami penyakit kronis. Pada orang lanjut usia biasanya memiliki kecenderungan penyakit kronis (menahun/berlangsung beberapa tahun) dan progresif (makin berat) sampai penderitanya mengalami kematian. Kenyataannya, proses penuaan dibarengi bersamaan dengan menurunnya daya tahan tubuh serta metabolisme sehingga menjadi rawan terhadap penyakit, tetapi banyak penyakit yang menyertai proses ketuaan dewasa ini dapat dikontrol dan diobati. Masalah fisik dan psikologis sering ditemukan pada lanjut usia. Faktor psikologis diantaranya perasaan bosan, keletihan atau perasaan depresi (Nugroho, 1992 : 32).

Kecemasan akan kematian dapat berkaitan dengan datangnya kematian itu sendiri, dan dapat pula berkaitan dengan caranya kematian serta rasa sakit atau siksaan yang mungkin menyertai datangnya kematian, karena itu pemahaman dan pembahasan yang mendalam tentang kecemasan lansia penting untuk, khususnya lansia yang mengalami penyakit kronis, dalam menghadapi kematian menjadi penting untuk diteliti. Sebab kecemasan bisa menyerang siapa saja. Namun, ada spesifikasi bentuk kecemasan yang didasarkan pada usia individu. Umumnya, kecemasan ini merupakan suatu pikiran yang tidak menyenangkan, yang ditandai dengan kekhawatiran, rasa tidak tenang, dan perasaan yang tidak baik atau tidak enak yang tidak dapat dihindari oleh seseorang (Hurlock, 1990:91).

Disamping itu juga, ada beberapa faktor lain yang dapat menimbulkan kecemasan ini, salah satunya adalah situasi. Menuruk Hurlock (1990:93) bahwa jika setiap situasi yang mengancam keberadaan organisme dapat menimbulkan kecemasan. Kecemasan dalam kadar terberat dirasakan sebagai akibat dari perubahan sosial yang sangat cepat. Hal ini sesuai dengan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti dengan salah seorang lansia yang sedang mengalami pengobatan rawat jalan karena terkena penyakit kronis di tempat kediamannya, seperti dituturkan oleh Azis salah seorang anak yang orang tuanya sedang menjalani terapi pasca pengobatan penyakit stroke di RSU Saiful Anwar Malang, bahwa

ia pasrah terhadap penyakit yang diderita oleh ibunya, berbagai usaha sudah kami lakukan sebagai anak agar ibu cepat sembuh walaupun tidak 75% sembuhnya. Tapi ibu juga agak rewel susah diatur dan kadang mintanya macem-macem, disuruh diam duduk disitu, ia malah kepengen jalan katanya gak betah tiduran aja”.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Casanah,2000:27) mengemukakan bahwa mungkin saja orang yang sudah lanjut usia seringkali mendapat perlakuan yang sebenarnya tidak mereka inginkan, misalnya selalu disuruh duduk saja. Mungkin para lansia itu akan berfikir, “ Mentang-mentang sudah tua, disuruh diam saja. Padahal kan aku ingin membantu juga .” Begitulah yang biasanya terjadi, yang muda merasa kasihan, sementara yang tua merasa kalau mereka masih sanggup melakukan sesuatu. Apa yang orang muda lakukan pada mereka yang sudah lansia seperti yang dikemukaan tersebut, sebenarnya suatu kesalahan. Keluhan-keluhan tersebut merupkan suatu cara yang memang seringkali dilakukan dan terjadi dikalangan lansia yang tujuannya adalah untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang terdekatnya yang mungkin hal tersebut bagi si orang tua (lansia) terasa sangat jauh dari dirinya apalagi dalam bentuk perhatian terhadap kesehatan dirinya, seperti pola makan yang sangat diatur, dan lain sebagainya adalah merupakan hasil dari adanya kecemasan akan kondisi kesehatan fisiknya (lansia).

Terdapatnya beberapa penyakit sekaligus pada waktu yang sama, juga sering terjadi pada lansia dan inilah yang sering menimbulkan masalah dalam diagnostik sekaligus menimbukan kecemasan bagi si lansia itu sendiri. Bahkan adakalanya bahwa penyakit yang gawat, kurang diperhatikan karena gejala-gejalanya terselubung oleh keluhan-keluhan umum yang dikemukakan atau oleh karena gejala-gejala proses menjadi tua. Adakalanya mereka melebih-lebihkan keluhan mereka, sebaliknya sering mereka tidak mengemukakan apa yang dirasakan sesungguhnya.

Selain kesehatan fisik yang perlu dipahami, juga ada kesehatan mental, misalnya depresi. Depresi pada lansia memiliki latar belakang yang agak berbeda dengan orang dewasa lainnya, karena depresi pada lansia lebih sering timbul akibat berbagai penyakit fisik yang dideritanya. Suatu ketergantungan hidup pada orang lain timbul pada sebagian lansia yang kondisi fisiknya memang sudah tidak sempurna lagi, sehingga merupakan fenomena kedua penyebab adanya depresi (Nugroho,1992:69). Kecemasan lansia yang mengalami penyakit kronis dalam menghadapi kematian diantaranya adalah terjadinya perubahan yang drastis dari kondisi fisiknya yang menyebabkan timbulnya penyakit tertentu dan menimbulkan kecemasan seperti gangguan penceranaan, detak jantung bertambah cepat berdebar-debar akibatdari penyakit yang dideritanya kambuh, sering merasa pusing, tidur tidak nyenyak, nafsu makan hilang. Kemudian secara psikologis kecemasan lansia yang mengalami penyakit kronis dalam menghadapi kematian adalah seperti adanya perasaan khawatir, cemas atau takut terhadap kematianitu sendiri, tidak berdaya, lemas, tidak percaya diri, ingin bunuh diri, tidak tentram, dan gelisah.

Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kecemasan pada lansia yang mengalami penyakit kronis dalam menghadapi kematian diantaranya adalah selalu memikirkan penyakit yang dideritanya, kendala ekonomi, waktu berkumpul dengan keluarga yang dimiliki sangat sedikit karena anak-anaknya tidak berada satu rumah/berlainan kota dengan subyek, kepikiran anaknya yang belum menikah, sering merasa kesepian, kadang sulit tidur dan kurangnya nafsu makan karena selalu memikirkan penyakit yang dideritanya

Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecemasan pada lansia yang mengalami penyakit kronis dalam menghadapi kematian meliputi menghibur dan menenangkan diri dengan menyanyi, rajin beribadah, menyibukkan diri, misalnya mencuci pakaian atau menyirami tanaman. rajin memeriksakan kesehatannnya ke dokter atau puskesmasterdekat dan mengatur pola makan teratur sebisa mungin, dan mengisi hari-harinya dengan cara menjenguk anak dan cucunya atau pergi mengunjungi ke panti jompo.

Penulis adalah Psikolog/Konusltan Ahli Lembaga Research & Data Base Malang

********Daftar Pustaka

Andrew. 2005. Goliszek Go Second Manajemen Stress. PT. Bhuana Ilmu Populer

Bali Post, 2 juni 2002

Casanah, 2000. A Life Span Fiew Edisi II. PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Davidoff, L 1991. Psikologi Suatu Pengantar, Jakarta Erlangga

Hurlock, Elizabeth. 1990. Psikologi Perkembangan edisi kelima Erlangga Jakarta

Kompas, 30 Mei 1996

Maramis, W.F. 1980. Lektor Kepala Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press

Nugroho Wahyudi, 1992. Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Santrock, Jhon. W Life Span Development, Perkembangan Masa Hidup. Jilid II Erlangga

Rahayu, IT & Ardani, TA. 2004. Observasi dan wawancara. Malang Banyumedia Publishing

Raymont.2001 Hidup Sesudah Mati. PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Wiramiharja. 2004. Pengantar Psikologi Klinis. Bandung; PT. Refika Aditama

Yin, 1996. Studi Kasus; Desain dan Metode. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

February 7, 2008 at 12:22 am Leave a comment


Blog Stats

  • 32,742 hits

Recent Posts

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Pages

Top Clicks

  • None

Stat


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.